News

Awal Mula Audeamus

Oleh Vania Marisca

Lagu terbaru Wake Up Iris, Audeamus, baru saja dirilis di berbagai paltform digital tanggal 30 Oktober 2020. Pembuatan lagu ini memiliki proses yang tidak singkat dan juga merupakan sebuah karya pertaruhan kami, bereksperimen dengan aransemen dan suara yang belum pernah kami lakukan sebelumnya. Inilah ceritanya.

Bermula dari rencana tahunan 2020 yang kami susun di sebuah kedai kopi di akhir tahun 2019, kami sudah mempersiapkan tema besar hingga sudah mulai menabung lirik dan lagu untuk album kedua yang rencananya ingin kami rilis di tahun 2020. Namun semesta berkata lain. Datangnya pandemi di bulan Februari 2020 membuat kami harus membatalkan hampir 80% rencana yang telah kami susun rapi untuk satu tahun ini. Kejadian itu sempat memperlambat langkah pembuatan lagu-lagu kami. Panggung-panggung yang telah siap mendengar karya kamipun harus batal. Pandemi benar-benar memberi efek yang telak kepada kami.

Di bulan April 2020, ditengah kegelisahan kapan pandemi ini berakhir dengan harapan kami dapat menjalankan sisa-sisa rencana tersebut, Bie berinisiatif untuk fokus kepada salah satu lagu baru kami. Dengan harapan, apapun yang terjadi, kami tidak ingin berdiam diri saja, meratapi kondisi saat itu dan tidak berkarya sama sekali. Pikirnya, mungkin hari ini kita seperti ‘terjebak’ dan harus berjuang dengan apa yang ada, namun ‘hari esok’ itu akan datang dengan sangat cepat, jika kita tidak bersiap, maka ‘hari esok’pun tidak akan dapat kita hadapi. Akhirnya kami kembali melakukan pertemuan-pertemuan dan obrolan untuk membahas lagu baru ini. Penyesuaian lirik dengan nadanya kembali kami olah. Saya membawa pulang perangkat rekaman Bie untuk saya gunakan di rumah, sehingga saya dapat merekam sample suara yang saya inginkan untuk lagu ini.

Setelah guide lagu direkam secara remote dari rumah masing-masing, kami mengevaluasi aransemen tersebut dan ada rasa yang kurang dengan instrumen yang biasa kami gunakan. Kami bereksperimen dengan synth, namun ada frekuensi yang kurang untuk menghantarkan semangat yang ada di dalam lagu tersebut. Kami sempatkan untuk berdiam diri hanya untuk mendengar kembali frekuensi yang belum ada tersebut. Selain itu kami berdiskusi dengan salah seorang teman kami secara intens,Drian, yang ada di luar kota, untuk bertukar pikiran mengenai lagu ini. Sepertinya kami cukup beruntung, semesta menyahut dan memunculkan berbagai frekuensi yang kami butuhkan dan Drian membantu mengeksekusi aransemen baru tersebut.

Tidak lebih dari dua bulan dari proses tersebut, Bie memutuskan untuk mulai merekam lagu ini, yang belum memiliki judul. Semua proses perekaman dilakukan dirumah dan memaksimalkan apa yang kami punya. Saat itu kami tidak memiliki kesibukan lain selain rekaman, belanja bahan makanan, memasak, dan rekaman lagi. Kami mencurahkan kegundahan, keresahan dan harapan kami ke dalam setiap nada yang kami rekam.

Di akhir proses perekaman, kami memperdengarkan karya kami kepada seorang emerging director muda, Jovian Fraaije, dan rupanya semesta seperti membuka jalan kepada kami. Jovian mau terlibat dan menjadi sutradara videoklip lagu ini. Satu-persatu energi positif bermunculan. Jovian memperkenalkan kami kepada Jovanka, dimana akhirnya karya Jovanka muncul dalam artwork kami. Kami akan berkisah mengenai apa yang terjadi di balik pembuatan videoklip pertama kami dan siapa saja orang-orang luar biasa yang terlibat di dalamnya nanti.

Hingga beberapa saat sebelum merilis single ini ke udara, kami masih belum menemukan nama yang tepat untuk menjadi judul lagu ini. Naik-turun rasa dalam pengolahan lagu ini, keresahan yang harus kami hadapi secara mendadak karena pandemi, dan harapan yang ingin kami bagikan kepada siapapun tanpa batas. Setelah beberapa saat, muncullah sebuah kata dalam bahasa latin yang dapat merangkum apa yang ingin kami sampaikan. Audeamus. Ia bermakna, may we venture, may we take risk, may we prepare for the battle.

Apa yang terjadi sekarang, mungkin sedikit-banyak menahan dan menunda rencana dan harapan kita, namun harapan itu tidak boleh sirna. Mari kita berpetualang, melawan rasa takut dan keputusasaan, menggantinya dengan harapan atas hari-hari baik yang akan datang. Mari kita mengambil resiko, dengan tidak menyerah sekarang dan tetap menyusun rencana untuk hari esok. Dan mari kita persiapkan diri untuk sebuah pertempuran, yang akan kita hadapi sebentar lagi, setelah pandemi usai dan diri kita akan dihadapkan dengan berbagai kesempatan yang tertunda, menunggu untuk diwujudkan. Semoga Semesta memberi kami dan dirimu jalan untuk hari esok yang lebih cerah.

WAKE UP IRIS! FROM INDONESIA SPREAD THEIR WINGS IN THE ZANDARI FESTA MUSIC FESTIVAL IN SOUTH KOREA

Making music and living far from the capital city of Indonesia does not make Wake Up Iris !, a duo from Malang, East Java, missed the opportunity to represent Indonesia on the international music scene. The reason is, after becoming one of the Go Ahead Challenge 2017 winners and getting the chance to become a participant and performed at SXSW 2018, Texas, USA in March this year, they will again represent Indonesia at Zandari Festa Music Conference and Festival 2018, Seoul, South Korea on the next October. Not only Wake Up Iris !, this year Indonesia will also be represented by Kimokal and Lightcraft from Jakarta. Three of them will enliven Zandari Festa on October 4th – 7th 2018. Previously, electronic duo from Bandung, Bottle Smoker became the representative of Indonesia at Zandari Festa 2017.

Zandari Festa is the largest Showcase Festival and Music Conference in Asia that became a reference for promoters, music festival organizers, music distributors and independent musicians in Asia and all around the world. Starting in 2012, Zandari Festa has presented hundreds of musicians from all over the world with varied genres over the past 6 years. As usual, this year Zandari Festa will be attended by organizers of major Music Festivals from around the world such as Glastonbury (UK), Great Escape (UK), Clockenflap (HK), Big Mountain (TH), and many more. Zandari Festa has also partnered with Sound City Festival in Liverpool since 2016. Held in Hongdae, the epicentre of Korean independent music scene and young people in Seoul this year Zandari presents over than hundred musicians from 18 countries such as Britain, Japan, France, Indonesia, Hungary, Canada and others . Not only as the line ups, participants could also attend international conferences and build a wider network through this event. The re-involvement of Indonesia in this festival is a very good sign for Indonesian musicians. “This can be a proof that there are so many Indonesian musicians that can be accepted internationally” said Bie Paksi.

This time, supported by Siasat Partikelir in Siasat Trafficking program, Wake Up Iris! will enliven the festival showcase and use the moment to bring their first album around South Korea and Malaysia with a tour titled AUREOLE Asian Tour. Starting with being one of Zandari Festa’s line-up opening parties on the first day, performing at Convent on October 5th , playing in the Changdong area exactly Platform Changdong 61 on October 6th and flying to Jeju Island on October 7th to play at an Art Festival there. Coming home from Zandari Festa, Wake Up Iris! will perform in Ipoh and Kuala Lumpur with Malaysian soloist Azmyl Yunor at Gaslight “We want to get to know more people through music and want to spread the positive vibe of our music as far as we can,” explained Vania Marisca.

Wake Up Iris! Bie Paksi and Vania Marisca, have been present on the Indonesian music scene since mid-2015 and released their first album in January 2018 titled AUREOLE. Armed with Viola, Guitar, Kickdrum and vocals from both of them, they have become one of the line ups of music festivals in Indonesia such as Folk Music Festival, Musik Hutan in Makassar, Soundrenaline in Bali and held several tours one of which toured 18 cities in Indonesia with Navicula from Bali and Semiotika from Jambi in the Siasat Calling On the Road by Siasat Partikelir. Wake Up Iris ! can be found in Spotify, iTunes, and also @wakeupiris on Instagram and website www.wakeupiris.com

Wake Up Iris on Zandari Festa 2018 and Malaysia for Aureole Asian Tour Part 1

October 4th – Convent, Opening Party Zandari Festa 2018

October 5th – Convent, Hongdae, Seoul, South Korea

October 6th – Platform 61, Changdong, Seoul, South Korea

October 7th – Art Festival, Jeju Island, Seoul, South Korea

October 12th – PBUY Store, Ipoh, Malaysia

October 13th – Gaslight, Kuala Lumpur, Malaysia

Wake Up Iris! Release Debut Album

“A U R E O L E”

After much teasing, eventually the debut album for folk band hailing from Malang, Wake Up Iris! is finally out. Titled “A U R E O L E”, the album is revealed on digital platforms on 24 January 2018, before they are sent to the shelves on your favorite record stores. Bie Paksi and Vania Marisca of Wake Up Iris! created this album after finishing their Prelude showcase tour across Jakarta and Bandung in 2017.

Beforehand, the duo have also revealed the live forest session of single “Rain’s Tale” in the beginning of 2017 and another single called “Metanoia” on Spotify in April 2017. The debut album was released in conjunction with their three year mark after they first set foot on stage. So many things have happened to this musical project in those period, making this album a fruit of their hard labor. The debut album aims to introduce the band in a more comprehensive way than previous releases, making their brand and unique musical quality more known to the public.

This album’s philosophy is like traveling both physically and mentally. It talks about the high spirit to spread kindness from within, anger towards volatile humanity, and longing to travel and find homes in between journey. For short, this album is the first stepping stone towards more greatness we’ll be able to witness from Wake Up Iris! in the future.

They got the inspiration for this album from nature, especially when they traveled across mountains at Gowa, Makassar last year. They try to provide the perfect sound design for their music character in Indonesia’s ever-changing music industry.

The artworks which tell about microcosmic and macro-cosmic were created by Kongsi Rupa Macan Unggulan, a design studio situated in Malang to better convey the message that the band wrap within this album. The band are ready to take their violin, kick drum, and guitar on the road with a planned tour starting in April – May.

Several cities across Indonesia have been included on their list, although they haven’t spilled all the details. Welcome to Wake Up Iris! universe with “A U R E O L E” which will be available on Spotify and iTunes soon. Get more details about the album here and pre-order the CD as well.

January 24th 2018 by the display.net  

Hadiri SXSW 2018,

Wake Up Iris! Rilis Video Lirik

Setelah merilis full album A U R E O L E pada tanggal 24 Januari 2018, Wake Up Iris ! kali ini merilis video lirik lagu Nefelibata di platform Youtube. Mengusung single album dari A U R E O L E , berjudul Nefelibata ini, Wake Up Iris! ingin mengajak pendengar untuk konsisten menjadi diri sendiri dan tidak malu untuk berbeda. Dalam video ini, Wake Up Iris ! berkolaborasi dengan seniman teater dari kota Malang, Bejo Sandy dan videografer Varian Tyan. “Nefelibata adalah cloudwalker dalam Bahasa Portugis. Orang yang sering dianggap aneh, beda sendiri dari kumpulannya. Kadangkala kalau tidak seragam dengan masyarakat umumnya, para cloudwalkers ini dikucilkan atau dibicarakan. Nah dari lagu ini kami ingin mengajak semua pendengar untuk percaya diri karena kita sendirilah yang paling tahu apa yang terbaik buat diri kita sendiri” jelas Vania Marisca. “ Kami berkolaborasi dengan Bejo karena selama kami berkarya di Malang, kami sering bertemu dan melihat sosok Bejo sebagai seseorang yang mewakili pesan yang ingin kami sampaikan. Sudah lama ingin menggarap kolaborasi ini, syukurlah sekarang telah kesampaian.” Tambah Bie Paksi. Bejo Sandy sendiri telah banyak mengadakan pagelaran teater di berbagai kota secara pribadi dan bersama kelompok teater Celoteh yang ia dirikan di tahun 2012. Selain itu Bejo juga kerap memberikan pendidikan kesenian teater dan musik karinding di sekolah-sekolah hingga perguruan tinggi. Video lirik ini juga menjadi salah satu tanda keberangkatan Wake Up Iris ! menghadiri SXSW 2018, music showcase dan conference yang diadakan di Austin, Texas, USA. Wake Up Iris ! sebagai salah satu pemenang Go Ahead Challenge 2017 di bidang musik akan berangkat bersama dengan tiga pemenang lainnya yaitu Visual Artists dari Bandung dan Jogjakarta juga Semiotika dari Jambi, Kimokal, dan bersama kolektif kreatif Siasat Partikelir. Selama 2 minggu mereka akan mengikuti workshop dan konferensi di Jakarta dan USA mengenai musik, marketing, branding dan beberapa hal lainnya terkait industri musik oleh para ahli.

Published March 10th 2018

AUREOLE Album Tour 2018, Pesan dari Semesta

Setelah merilis album pertama mereka, A U R E O L E, pada tanggal 24 Januari 2018, Wake Up Iris !  akan segera bertandang ke beberapa tempat, sebelum akhirnya mengikuti serangkaian acara di USA bersama program kreatif  Siasat Pertikelir dan para pemenang Go Ahead Challenge 2017 lainnya di bulan Maret 2018.

Rangkaian tur akan dimulai di Jogjakarta pada tanggal 20 Februari 2018 di Ruang Gulma dan dilanjutkan ke Semarang keesokan harinya di Impala Space, Spiegel Building. Lalu Wake Up Iris ! akan menuju ke Bekasi tepatnya di Kedubes Bekasi pada tanggal 28 Februari dan menutup perjalanan mereka ke Pamulang, di EARHouse pada tanggal 1 Maret 2018. Mereka juga akan mengadakan Radio Tour seperti  Ruru Radio dan Soundquarium di  Jakarta Selatan.

Album pertama Wake Up Iris !, A U R E O L E ini memiliki tema besar melihat makrokosmos melalui mikrokosmos, manusia itu sendiri. Pengerjaan album ini sudah dimulai sejak April 2017 setelah Tur Showcase mereka ke Jakarta dan Bandung. Berisikan 7 buah lagu original, Wake Up Iris ! ingin menebarkan pesan pesan yang mereka dengar dari semesta dan disampaikan melalui lagu lagu mereka untuk memberikan semangat positif, mengajak pendengarnya menjadi pelangi di bumi ini dan memulai kebaikan dari diri sendiri.

Single yang akan diusung oleh Wake Up Iris!  adalah Nefelibata, sebuah lagu yang menurut mereka mewakili semangat dari album pertama mereka. Single ini akan segera rilis bersama Video Lirik sebelum dimulainya tur bagian pertama ini. Dalam Video Lirik ini Wake Up Iris ! bekerja sama dengan Videografer Varian Tyan dan seorang seniman teater, Bejo Sandy.

Wake Up Iris ! adalah Bie Paksi dan Vania Marisca. Mereka memulai projek musik ini sejak tahun 2015 dan telah merilis satu album dan satu Live Forest Session berjudul Rain’s Tale. Wake Up Iris! juga pernah menjadi line up di berbagai acara seperti Folk Music Festival, Malang 2015, Soundrenaline, Bali 2017, dan Musik Hutan, Makassar 2017.