the story behind audeamus music video

Oleh Vania Marisca

Semua bermula ucapan. Untuk aku dan Bie, ketika kita berucap sesuatu, semesta mendengarkan. Dan ketika semesta mendengar, bersiaplah untuk keajaiban-keajaiban yang akan bermunculan.

Di awal tahun 2020, tahun penuh harapan, kami sudah membuat serangkaian rencana dan ide. Cukup matang, hingga kami sangat yakin hanya perlu menjalaninya saja. Di bulan Januari, memang kami mengalami kehilangan sebuah space kreatif yang kami kelola, namun untuk kami, hal itu merupakan sebuah kesempatan untuk menciptakan karya yang baru. Kami berniat membuat karya musik lebih baik dan lebih banyak lagi. Rupanya dari creative space tersebut, kami berkenalan dengan seorang pemilik kedai kopi di Malang, Sam.

Saat itu, kami sedang sering-seringnya mampir ke kedai kopi miliknya sambil bertukar pikiran mengenai banyak hal. Suatu malam, Sam mengenalkan kami dengan Jovian, teman sekolahnya yang sekarang banyak berkecimpung di dunia visual dan musik. Kami mendengar ceritanya, melihat karyanya. Seru sekali! Sempat terbesit oleh kami untuk melibatkan Jovian dalam karya kami berikutnya. Namun satu lagupun belum selesai, sehingga kami hanya membatin. Sepulangnya dari kedai kopi milik Sam, aku sedikit berseloroh kepada Bie “Ya, siapa tau Jovi mau bikini videoklip kita buat lagu yang baru ya” dan Bie menjawab “Iya, semoga ya”. Rupanya semesta mendengar.

Tidak kurang dari sebulan, di awal Maret, kami harus kehilangan pegangan. Datangnya pandemi corona membuat segala rencana kami goyah. Musik yang sudah kami siapkan agak sedikit terganggu. Sambil menjaga semangat, tak dipungkiri, kami sedikit merasa down. Pandemi terasa sangat berat bagi musisi seperti kami. Nyaris semua rencana harus dipikir ulang.

Namun sepertinya semesta tidak ingin kami terlalu terlarut dan kehilangan semangat. Bie gerah ingin menyelesaikan lagu tersebut. Walaupun jarak jauh, kami merekam guide musik ini. Aku kembali merangkai rasa dan membangun semangat diriku sendiri menghadapi masa sulit ini.

Proses perekaman dilakukan di rumah sendiri, dibantu oleh Drian dalam eksekusi perkusi dan proses rekaman. Tak terasa, sudah hampir 90% proses rekaman, kami teringat dengan Jovian sembari berpikir, apakah masih bisa berkolaborasi dengan Jovian. Akhirnya kami mengirimkan demo lagu tersebut kepada Jovian. Tanpa disangka, dengan respon yang cepat, ia merespon “Ayo bikin videoklipnya!” . Kata-kata sederhana itu seperti kembali membakar semangat kami.

Beberapa hari kemudian, pertemuan kami dan Jovian di kedai kopi milik Sam berlangsung sangat seru. Dimas Prasetya bergabung menjadi DOP, Tera mau berkolaborasi membantu mendokumentasikan behind the scene, Bayu Rizma mau terlibat membawa drone nya, dan Aci alias Puterigumi langsung menyanggupi menjadi talent music video ini. Selain itu, Ciliwungcamp, rekanan kesayangan kami dalam urusan outdoor menyanggupi untuk membantu dalam logistik bermalam di lokasi syuting. Dari transportasi hingga akomodasi. Kami sempat kebingungan ingin menggunakan wardrobe yang berbeda dari biasanya. Rupanya Lakshmee Indonesia, dengan baju hand-made batik dari pewarnaan alam dan pattern tanaman bersedia bergabung. Semua berlangsung sangat cepat, kami hampir tidak percaya, Audeamus benar-benar mengumpulkan semangat-semangat baru yang positif dan menyenangkan.

Tepat seminggu dari pertemuan tersebut, kami mengeksekusi ide music video Audeamus. Kami berkumpul di rumah Dito saat subuh. Rupanya di rumah Dito mati lampu. Quin, yang terlibat sebagai Make Up Artist tetap dapat memberi make up kepada Aci, ia disulap menjadi seekor rusa kecil.

Di lokasi pertama, kami tiba tepat waktu dan dapat merekam scene yang diharapkan oleh Jovian. Kami menikmati sarapan pagi kami dengan hangatnya matahari pagi di lokasi sebuah gua di Batu. Menyenangkan, pikirku saat itu. Aku dan Bie benar-benar tak sabar dan sangat bahagia hari itu.

Di lokasi kedua, Jovian dan Dimas menyiapkan scene berikutnya, aku dan Bie bersiap untuk ke air terjun dan Dito dan Alap dari Ciliwung Camp tiba-tiba sudah menyiapkan tenda dan api unggun. Selama proses pembuatan video ini kami ditemani oleh Dito dan Alap beserta kedua jip kuning mereka yang keren. Nic Hemingway , salah seorang teman yang ikut dalam proses ini, seperti sangat familiar dengan hutan dan dengan sigap Nic dan Sam mengumpulkan api untuk dibakar. Sedangkan Kakung dan Drian, membantu apapun yang bisa dibantu.

Selama syuting di siang hari, terik matahari seperti terkaburkan oleh adrenalin yang aku rasakan. Aku harus sedikit naik ke air terjun dengan sepatu manggung yang licin dibawahnya, berharap tidak terpeleset. Sedangkan Bie mendapat scene di tengah kebun dengan latar pegunungan.

Hari berjalan sangat cepat, tiba-tiba sudah sore hari dan perkemahan kami bertambah seru dengan hadirnya Levi dari Lakshmee Indonesia. Angin sore cukup kencang, untungnya Taifun Drink ikut support dalam projek kali ini dan dapat menghangatkan kami semua. Sore itu, aku melihat Nic dan Sam berjalan menuju hutan untuk mencari kayu bakar lebih banyak lagi, agar malam semakin panjang. Aku memutuskan untuk menyusul mereka. Di tengah hutan, Nic mengajarkanku berbagai macam tanaman, yang berbau seperti minyak gosok hingga arbei liar serta kegunaan beberapa tanaman untuk pengobatan. Sesekali aku berbisik-bisik dengan pohon dan menyapa mereka. Menyenangkan sekali sore itu.

Di malam harinya, kayu bakar yang telah dikumpulkan oleh Nic dan Sam sangat cukup untuk menghangatkan kami. Malam itu, bulan terlihat penuh. Tanpa hadirnya sinyal, kami sangat menikmati obrolan dan sayap ayam olahan Bie semalam sebelumnya. Ada yang bercerita tentang harapan-harapan di masa depan, ada yang curhat mengenai perasaannya, ada yang diam saja menikmati sapaan bulan di sela-sela dedaunan dari pohon yang menjulang tinggi. Lewat tengah malam, kami menghampiri air terjun dekat perkemahan kami untuk merasakan indahnya langit malam itu. Sayangnya, semua terlalu asyik dan sedikit sekali dokumentasi visual malam itu. Kami tenggelam dalam rasa senang, bersyukur dan semangat yang tak terbendung untuk hari esok.

Keesokan harinya, Aci kembali berperan sebagai rusa kecil, berlari-lari diantara pepohonan. Tim Kirikanan yang memberi support berupa aksesoris bergabung. Kami merekam sisa-sisa scene yang belum terekam kemarin dan tak terasa kami harus mengakhiri proses pembuatan music video tersebut. Setelah melihat hasil shoot tim Dimas, Bayu dan Tera dari Good Vibe Creative Id, kami harus segera meringkas tenda dan kembali menuju ke Malang. Sungguh, terasa sangat cepat dan kami sangat tak ingin pulang. Sepertinya karena kami sangat menikmati dan nyaman dengan orang-orang yang terlibat.

Ketika kami akhirnya merilis Audeamus di tanggal 30 Oktober 2020 kemarin, dan akan merilis music video pada tanggal 10 November, kami semakin percaya bahwa semesta mendengar. Apalagi, setelah ini kami juga berproses untuk menyelesaikan video lirik yang disertai dengan bahasa isyarat (Bisindo). Lagi-lagi, semesta terasa mendukung dan memberikan banyak jalan.

Kami juga semakin percaya bahwa Audeamus berhasil mempertemukan kami dengan orang-orang yang luar biasa dan menjadi satu keluarga baru yang seru. Dengan adanya pengalaman demi pengalaman dalam melengkapi perjalanan Audeamus, kami semakin merasakan semangat yang ada dalam lagu ini, semangat untuk bersiap menghadapi sebuah kejutan di esok hari.

Terimakasih untuk semua yang terlibat,

ini untuk kamu, yang mau mendukung, menyediakan waktu dan energi untuk Audeamus,

ini untuk kamu, yang mau mendoakan dan berkata ‘Sukses terus buat next projectnya’ di setiap DM dan IGstory pada saat-saat yang menantang seperti ini,

ini untuk kamu, yang tetap menjaga semangat, seberapapun susahnya jalan yang kamu hadapi sekarang,

ini untuk kamu, yang setia mendengarkan karya kami

dan ini untuk kamu, yang selalu percaya besok akan menjadi hari yang lebih baik lagi.

Peluk hangat dari kami,

Vania dan Bie